kuliah sambil kerja di jakarta - yuk mari kuliah yang enak di tempat kuliah yang nyamaan di bekasi yaitu di ITECH COURSE.


Itech Bekasi 
kuliah sambil kerja 
JL balai desa no 28, Jatiasih Bekasi Timur

Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) tahun 2019 telah dimulai pada Senin, 10 Juni 2019. Ada 3.169 program studi (prodi) di 85 perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia yang ditawarkan.

SBMPTN adalahsalah satu jalur yang dapat digunakan untuk dapat masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN), di samping jalur SNMPTN dan jalur mandiri. Pada jalur ini, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi telah memutuskan daya tampung guna program ini sangat sedikit 40 persen dari daya tampung program studi di PTN.

Untuk dapat masuk PTN, peserta mesti berlomba ketat dengan tidak sedikit pendaftar lain. Maulita Sari, misalnya, merasa bangga saat mendapati dirinya diterima di IAIN Raden Intan Lampung—sekarang berubah nama menjadi UIN Raden Intan—jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, pada 2014 lalu. 

Namun, sayang, situasi ekonomi keluarga menciptakan perempuan yang akrab dipanggil Lita ini mesti merelakan kampus idamannya. Lita mengisahkan dirinya mesti bekerja untuk dapat memenuhi ongkos kuliahnya. “Di PTN, jadwal kuliahnya enggak luwes untuk karyawan, jadi pilih swasta,” ungkap Lita.

Ia memang sempat terpikir guna tetap berkuliah di PTN, konsentrasi kuliah dan menggali beasiswa, namun ia mempunyai pertimbangan lain. Tak melulu harus membayar ongkos semesteran, ia pun harus menggali uang untuk melakukan pembelian buku, transportasi, dan keperluan harian lainnya. 

Selain permasalahan Lita, tentu tidak sedikit calon mahasiswa beda yang dihadapkan dengan situasi harus bekerja. Rupa-rupa derajat keperluan ekonominya. Ada yang melulu perlu memadai separuh keperluan diri sendiri, terdapat yang mesti mengongkosi diri sendiri secara penuh, dan terdapat pula yang mesti berperan menjadi tulang punggung keluarga.

Baca juga: SNMPTN: Betapa Ketatnya Persaingan Masuk PTN

Fleksibilitas waktu pun menjadi dalil dari Diaz (26) saat memilih kampus swasta. Keterbatasan ekonomi mewajibkan Diaz guna kuliah seraya bekerja. Pekerjaan yang ia lakukan ialah pekerjaan sarat waktu supaya pendapatannya stabil.

“[Di universitas negeri], masa-masa kuliah pagi, sedangkan kita mesti kerja pagi hari, cari uang. Belum lagi bila jam kerja shift,” ujar lelaki yang memilih guna berkuliah di Universitas Semarang ini.

Kampusnya meluangkan jam perkuliahan senja hari yang biasa dipenuhi oleh mahasiswa yang menyambi kerja. Namun, ongkos yang dikeluarkan juga tidak murah. “Berkali lipat lebih mahal dibanding kuliah reguler pagi hari. Tentu tersebut menyulitkan,” tuturnya.

Sama laksana Lita, Diaz telah berhitung bahwa sirinya tak dapat kuliah di PTN. Apalagi, ia mendengar sejumlah temannya yang kuliah di PTN dan menyambi bekerja kesudahannya harus merelakan studi mereka.

Di PTN seraya Bekerja Paruh Waktu
Kuliah di kampus negeri, mahasiswa memang lebih susah untuk menyambi kerja sarat waktu, karenanya kampus swasta menjadi pilihan bagi mereka yang perlu menggali nafkah guna diri atau bahkan keluarganya. Memang tak seluruh kampus swasta punya jam fleksibel, tetapi sejumlah kampus swasta meluangkan perkuliahan dengan jam yang disesuaikan untuk para pekerja sarat waktu.

Di PTN, terdapat pula mahasiswa yang kuliah seraya bekerja. Namun, lazimnya mereka memungut kerja part-time sebab jam kuliah yang tak memungkinan. M. Irham, lulusan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), menuliskan perkuliahan di kampusnya dilangsungkan setiap hari dengan jam kuliah berbeda-beda masing-masing semesternya. 

“Ada pagi, jeda siang, senja lagi. Ada siang sama sore. Ada pagi saja. Tergantung semester dan jumlah sks yang diambil,” kata Irham.

Hal senada pun diungkap oleh Nurul Nur Azizah, 24 tahun. Alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung ini bercerita kampusnya tak menyediakan ruang belajar khusus pegawai. “Yang dapat kerja full time tersebut kalau telah skripsi. Yang kuliah biasa ya [kerja] yang part time-part time gitu,” tuturnya.

Baca juga: Gagal Masuk PTN? Menunggu Tes Tahun Depan Tak Mengapa

Semasa kuliah di Universitas Gajah Mada (UGM), Naomi Jayalaksana hanya dapat bekerja paruh waktu, tersebut pun masih di dalam lingkungan kampus dengan menjadi asisten dosen.

Naomi menuliskan ada temannya yang mengongkosi kuliahnya sendiri dan mereka mesti kerja paruh masa-masa di tidak sedikit tempat supaya bisa memenuhi keperluan hidup dan sekolahnya sebab mereka tak barangkali bekerja sarat waktu di satu tempat.

“Teman baikku di S1 UGM dulu terdapat yang kerja sampai sejumlah pekerjaan sekalian; guru les, guru pencak silat, dan satu lagi aku lupa. Saking dia kecapekan, begitu hingga di ruang kuliah dia tentu ketiduran,” ungkap Naomi.

Mahasiswa Pekerja Lebih Sedikit Akses
Meski tak banyak, ada pun PTN yang meluangkan kelas untuk pegawai, salah satunya Universitas Khairun, Ternate. Adlun Fikri, 23 tahun, mengatakan seringkali kelas pegawai diadakan pada senja hari, dengan masa-masa yang isepakati mahasiswa dan dosen.

“Biayanya tersebut ya agak tidak banyak tinggi, terus mereka masuk sore,” kata Adlun.

Selain ongkos yang tinggi, opsi program studi yang terdapat pun terbatas karena melulu Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi yang membuka kelas untuk karyawan.

Akses edukasi tinggi yang terbatas guna pegawai sarat waktu tak melulu menjadi masalah di Indonesia. Dalam suatu kolom opini di New York Times, Rainesford Stauffer, seorang mahasiswa dan pekerja sarat waktu di Amerika Serikat, membeberkan keluhannya bahwa kampus sempat meminta dia guna berhenti bekerja ketika kuliah.

Infografik PTN VS PTS


“Di tahun kedua saya, seorang penasihat akademis dengan tegas memperingatkan saya soal risiko memungut kuliah sarat dan bekerja. ‘Kamu tidak akan dapat melakukan ini,’ katanya. ‘Saya sangat menganjurkan Anda guna memprioritaskan edukasi Anda’,” Stauffer menirukan ucapan dosennya itu.

Meski di Amerika Serikat semua mahasiswa dapat mengajukan pinjaman pendidikan, namun menurut keterangan dari Stauffer, di tengah mahalnya ongkos pendidikan, kampus-kampus harusnya tak mengajak mahasiswa pekerja guna meninggalkan kantornya. Berdasarkan keterangan dari Stauffer, pinjaman edukasi akan membuat mahasiswa berutang.

Sebuah tulisan yang dipublikasikan oleh Harvard Extension School mengindikasikan penelitian yang dilaksanakan oleh Georgetown University (PDF). Dalam penelitian tersebut, mereka menciduk bahwa tidak sedikit orang memerlukan pekerjaan sarat waktu sembari menuntaskan pendidikan tinggi mereka. Mereka bekerja tidak saja untuk menolong membayar duit sekolah, tapi pun untuk ongkos hidup, seperti santap dan lokasi tinggal.

Dan menurut penelitian dari Pew Research Center, kuliah seraya bekerja sarat waktu dapat meningkatkan kesejahteraan mereka, sebab seringkali mereka bakal mengalami eskalasi jabatan sesudah lulus kuliah.

Baca juga tulisan bersangkutan KULIAH atau tulisan unik lainnya Widia Primastika